RA Kartini atau Dewi Sartika

Selama ini kita memperingati hari emansipasi wanita setiap tanggal 21 April. Dimana menurut pemerintah emansipasi wanita itu dirintis oleh Raden Ajeng Kartini. Tapi bagaimana dengan Dewi Sartika? Menurut saya dialah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk para kaum wanita. Dialah yang mengajak wanita Indonesia untuk mandiri, ssama derajatnya denagn kaum pria. Apa sebab?

Dewi Sartika:

Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884 dan meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun. Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan. Di sebuah ruangan kecil, di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajar di hadapan anggota keluarganya yang perempuan. Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu Pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia-Belanda. Tenaga pengajarnya tiga orang; Dewi Sartika dibantu dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid. Murid-murid angkatan pertamanya terdiri dari 20 orang, menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Setahun kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi syarat kelengkapan sekolah formal. Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-sepuluh, tahun 1914, nama sekolahnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan). Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum memiliki Sakola Kautamaan Istri tinggal tiga/empat, semangat ini menyeberang ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh. Seluruh wilayah Pasundan lengkap memiliki Sakola Kautamaan Istri di tiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Bulan September 1929, Dewi Sartika mengadakan peringatan pendirian sekolahnya yang telah berumur 25 tahun, yang kemudian berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”. Atas jasanya dalam bidang ini, Dewi Sartika dianugerahi bintang jasa oleh pemerintah Hindia-Belanda.

RA Kartini:

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ketika muda, Kartini yang bisa berbahasa Belanda mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini meninggal beberapa hari setelah melahirkan anak. Ia dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Untuk meneruskan cita-cita Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara.

Dari halnya tadi, dapat dibuktikan bahwa Sekolah yang katanya didirikan Kartini baru didirikan beberapa tahun setelah dia wafat. Itupun bukan berdasarkan gagasan Kartini, melainkan Van Deventer, yang bahkan seorang Belanda. Sedangkan Dewi Sartika telah mendirikan sekolah yang nyata hasil dari gagasannya pada tahun 1904.

kini, semua kembali kepada anda, mau percaya atau tidak dengan statement saya. Terima Kasih.

SELAMAT HARI KARTINI, 21 April 2010

JAYALAH PEREMPUAN INDONESIA!

RA KARTINI

10 pemikiran pada “RA Kartini atau Dewi Sartika

  1. mungkin karena dampak yang ditimbulkan oleh RA Kartini lebih luas cakupannya, sedangkan dewi sartika hanya sebatas jawa barat saja. mugkin, ini hanya berdasarkan pemikiran pribadi saya.

    1. dampak luas? bukankan lebih berdampak ketika cut nyakdien mengusung senjata berperang langsung engan penjajah?, bukankah lebih berdampak ketika rohana kudus membuat pernyataan2 yang membuat semangat anti penjajahan dan dibrendel semua surat kabarnya oleh belanda, bukankah lebih bedampak ketika dewi sartika tidak hanya bermimpi saja ingin mendirikan sekola khusus perempuan… iya berdampak luas karena kartini dijadikan pahlawan karena campur tangan belanda, yang menurut belanda pemikiran dan tindakan kartini tidak merugikan belanda oleh sebab itu dia disayang belanda dan dijadikan pahlawan emansipasi wanita.. ini menurut pemikiran yang logis.

      1. setuju ma cinta, saya banyak membaca ulasan tentang R.A Kartini dan entah mengapa saya merasa beliau emang dijadikan boneka. kalau tidak, mana mungkin mereka mau menerbitkan surat-suratnya dalam bentuk buku? Secara mereka masih dalam posisi penjajah yang ingin menguasai nusantara ini, bukankah mereka membatasi orang-orang yang bisa bersekolah pada era itu? Hanya orang-orang tertentu, lalu mengapa mereka repot-repot menerbitkan surat2nya kalau tidak ada maksud tertentu? Dulu saya mengidolakan beliau, saya orang jawa asli. Tapi setelah membaca banyaknya ulasan tentang beliau, saya jadi ragu.

  2. menurut saya ini karena adanya campur tangan politik yang dimana kaum Jawa selalu ingin lebih show up dari kaum Sunda terhadap masyarakat, dan sampai sekarang pun masih seperti itu, itu bisa dilihat dri para pemimpin di Indonesia sekarang ini jika kita lihat rata-rata orang Jawa. hal ini selalu tidak lepas dari campur tangan politik. sebenarnya bukan hanya masalah hari kartini saja tapi masih banyak lagi.

  3. harusnya di era keterbukaan ini , kita harus berani mengkoreksi sejarah, harus berani menerima kenyataan, bahwa Cut Nya’ Dien dan Dewi Sartika jauh lebih hebat dari RA Kartini. Selain itu masih banyak tokoh wanita lain seoerti Christina Martha Tiahohu, pejuang wanita dari Maluku, dan saya yakin wanita Indonesia banyak yang lebih hjebat dari Ibu Kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s