Soekarno: Nasionalis tapi Muslim yang Fanatik (Rusia – Indonesia)

Bung Karno, itulah sapaan akrab kita terhadap Ir. Soekarno yang telah menjadi mantan Presiden RI pertama tersebut. Kita tahu ia adalah seorang nasionalis sejati, yang tidak takut mati hanya untuk bangsanya. Tapi apakah benar ia hanyalah sorang nasionalis? Ternyata di dalam diri seorang Soekarno ada sisi fanatiknya.

Hal ini terjadi ketika Soekarno mengadakan kunjungan luar negerinya ke Uni Soviet (Rusia) yang ketika itu dipimpin oleh PM Nikita Khrushchev. Ketika itu, hubungan antara Indonesia – Uni Soviet sangatlah erat. Ini jugalah yang menjadi pemikiran Amerika Serikat kala itu bahwa Indonesia dikira beraliran Komunis.

Sekedar info, sejarah hubungan Indonesia – Uni Soviet sudah terjadi sejak tanggal 25 Januari 1950 ketika Uni Soviet mengakui kemerdekaan Indonesia dan menginginkan hubungan bilateral antara kedua negara. Pada tahun 1950 – 1965 Indonesia menjalin pendekatan dan kerja sama erat dengan Uni Soviet. Sebagai negara yang baru saja terbentuk, Indonesia membutuhkan pengakuan dari masyarakat dunia. Masuknya Indonesia ke PBB dipandang sebagai langkah paling penting. Pada April 1950, delegasi Indonesia mengunjungi Moskow untuk berunding dengan Menlu Uni Soviet AY Vishinskiy, membahas dukungan negara kami yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Kesepakatan tercapai pada September 1950 dan Uni Soviet sebagai negara yang sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mendukung masuknya Indonesia ke PBB.

Pada tahun 1956, Presiden Soekarno melawat untuk pertama kalinya ke Rusia. Lawatan yang berlangsung mulai dari 28 Agustus hingga 12 September membuka babak baru dalam hubungan kedua negara. Pada 11 September, Soekarno dan PM Khrushchev menandatangani sebuah dokumen yang menegaskan ‘kedua negara akan membentuk hubungan bilateral berdasarkan prinsip-prinsip saling menghormati keutuhan wilayah dan kedaulatan, menolak campur tangan terhadap urusan masing-masing, akan mengikuti semangat dan prinsip-prinsip Konferensi Asia-Afrika. Kedua pihak sepakat untuk mengatur kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, dan ekonomi berdasarkan ke setaraan dan saling menguntungkan’.

Peran Uni Soviet selanjutnya:

  1. Uni Soviet membantu Indonesia dalam pembangunan Gelanggang Olah Raga “Gelora Bung Karno” pada 1962 menyambut Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games ketika itu. Gelora Bung Karno ini  terinspirasi dari Gelanggang Olah Raga Uni Soviet, “Luzhniki”
  2. Pada 1960 Indonesia – Uni Soviet menandatangani sejumlah persetujuan  di bidang peningkatan pertahanan Indonesia dengan biaya melebihi US$ 1 miliar (perhitungan harga masa itu), yakni modernisasi persenjataan dan peralatan militer TNI-AL dan TNI-AU, serta pelatihan beberapa ribu tentara maritim dan angkatan udara Indonesia di Uni Soviet. Hal ini digunakan Soekarno untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.

Rincian bantuan militer uni Soviet:

  • TNI – Angkatan Laut: mendapat 70 kapal tempur dan kapal pendukung, termasuk kapal-kapal penjelajah , enam kapal torpedo, empat kapal jaga, 12 kapal selam, 12 kapal motor luncur rudal dan 12 kapal motor luncur torpedo, dan 10 kapal penyapu ranjau.
  • Pasukan marinir mendapat 100 amfibi, artileri, beberapa divisi rudal sistem pertahanan antirudal, persenjataan tembak, mesiu dan amunisi untuk dua divisi pasukan militer.
  • TNI – Angkatan Udara: disuplai dengan pesawat torpedo modern (TU-16 KS dan TU-16), pesawat pengebom dan pesawat intelijen jarak jauh. Angkatan Laut juga mendapat pesawat-pesawat tempur MIG-17, MIG-19, MIG-21 dan pesawat-pesawat pendukung lainnya dalam mendukung kinerja TNI-AL bersama TNI-AU

Ketika Soekarno mengunjungi Uni Soviet tahun 1956,  Soekarno disugguhkan berbagai macam keindahan dan pesona dari Negara komunis, Uni Soviet. Soekarno begitu takjubnya melihat keindahan kota Moskow dan beberapa kota lain di Rusia. Suatu hari, ketika Soekarno sedang mengelilingi kota Leningrad (St. Petersburg), ia melihat sebuah bangunan tua yang kala itu digunakan sebagai ‘medical warehouse‘. Gedung tersebut mirip sekali seperti sebuah masjid. Lantas pada kesempatan berikutnya, ia bertanya kepada Khrushchev, “Bekas gedung apakah itu?”. Khrushchev menjawab bahwa gedung tersebut merupakan bekas masjid yang sudah ditutup ketika perang dunia II.

Menjelang kepulangannya ke tanah air, PM Rusia, Khrushchev bertanya kepada Soekarno. Begini kira-kira pembicaraan mereka: “Bagaimana kunjunganmu selama beberapa hari ini, presiden? Menyenangkan bukan? Bukankah kota ini begitu indah?”. Soekarno mejawab begini kira-kira: “Ku akui kota ini begitu indah, tetapi kota ini tidaklah seindah yang kupikirkan”. “Apa maksudmu? banyak bangunan unik disini” jawab Khrushchev. “Kota ini sama sekali tidak indah karena tidak ada masjid disini”. Sontak mendengar komentar Soekarno tersebut, Khrushchev memerintahkan ajudannya untuk mengoperasikan kembali masjid tua tersebut dan menamainya dengan nama Masjid Soekarno. Masjid itu direnovasi besar-besaran selama 10 hari setelah Soekarno pulang ke tanah air, dan masjid itu ada sampai sekarang.(Bossga)

Satu pemikiran pada “Soekarno: Nasionalis tapi Muslim yang Fanatik (Rusia – Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s