Kudeta Terarah

Tidak lepas dari peristiwa G 30 S, ternyata dampak dari peristiwa itu berbuntut panjang dan sangat berpengaruh pada naiknya Soeharto menjadi pejabat Presiden.

Gerakan 30 September yang merupakan topik berita saya sebelumnya merupakan titik awal dari langkah Soeharto menuju kekuasaan. Di gambar diatas, mengapa saya begitu terang-terangan mengatakan demikian? Karena menurut saya peristiwa setahun lebih pasca G 30 S merupakan tahun-tahun Jend. Soeharto merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno, sekaligus membuka jalan bagi datangnya kapitalisme ke Indonesia. Meskipun banyak yang masih kontroversial, bahkan ada yang mengatakan bahwa Soeharto  adalah boneka/korban kapitalisme, saya berkata TIDAK! Karena, Soeharto bisa menolak terang-terangan kepada Barat untuk tidak mau menerima kapitalisme, jika ia mau. Sayangnya tidak. Ia malah menerimanya.

MATI SEGAN, HIDUP TAK MAU

Malam peristiwa G 30 S merupakan tonggak penting yang menjadi titik awal masa jayanya Soeharto. Ia membakar emosi rakyat dan membuat rakyat nya benci terhadap PKI. Karena PKI adalah musuh satu-satunya Angkatan Darat yang mendapat dukungan rakyat terbanyak melebihi AD yang berada pada posisi kedua. Soeharto memanfaatkan ajaran NASAKOM-nya Bung Karno untuk menghancurkan Bung Karno sendiri. Mengapa? satu alasan yang pasti adalah Bung Karno tidak mungkin menarik kata-katanya tentang NASAKOM (Nasionalis-Agama-Komunis) dengan membubarkan partai yang berlandaskan komunis.

Perlu diketahui: Janganlah menyimpulkan NASAKOM itu dalam arti sempit. Jika anda pernah baca Sosiologi, maka anda akan tahu bahwa Komunisme yang dimaksud pada Nasakom adalah akar dari Sosialisme. Dimana Sosialisme bertujuan untuk mensejahterakan semua rakyat. Jadi adalah salah jika ada orang menganggap bahwa Soekarno adalah seorang komunis.

Ditengah pergolakan kenaikan harga BBM dan masalah ekonomi lain, masyarakat malah asyik dan mengurusi tentang G 30 S. Dimana-mana muncul tuntutan pembubaran PKI kepada pemerintah. Soekarno menemui apa yang dinamakan ‘jalan buntu’, ibarat kata mati segan hidup tak mau. Karena, jika ia membubarkan PKI, maka ia tidak serius dengan ajaran NASAKOMnya. Tetapi jika ia diam dan membiarkan PKI terus berjaya, maka masyarakat yang telah dibakar emosinya akan terus menuntut pemerintah untuk mundur jika tidak dapat memberikan solusi.

Tahun 1965 adalah masa-masa kelam Bung Karno. Indonesia menghadapi krisis politik. Banyak terjadi pembunuhan dimana-mana, dan hal itu dimanfaatkan Amerika untuk memasukkan jala bantuannya ke Indonesia. Soekarno tahu bahwa inilah rencana Amerika dan Soeharto, ia pun tahu pergerakan mereka. Tetapi, ia tidak bisa mundur, juga sulit untuk maju. Ia seperti dikepung oleh satu masalah saja, yakni kudeta GERAKAN 30 SEPTEMBER.

Begitu hebatkah masalah ini? Sangat! Bahkan kata PM Inggris pada saat itu, Tony Blair mengatakan, “Biarlah terjadi letusan-letusan kecil untuk hidup yang lebih baik ” (sumber: youtube Globalisasi Indonesia). Mungkin dapat diartikan bahwa, biarlah terjadi peristiwa berdarah ’65 demi kepentingan barat memasukkan kapitalisme.

Saya kira, jika saya terus membahas masalah kapitalisme, maka saya terlalu menyimpang dari judul saya ini. Langsung saja kita menuju ke inti topik.

HASIL ANALISIS SOEBANDRIO

Soebandrio, bekas anak buah Soeharto di Kodam Diponegoro membuat sebuah analisis. Ia melihat dua hal:

  • Letkol Untung dan Latief yang akan menghadapkan Dewan Jendral kehadapan Presiden Soekarno.
  • Yoga Sugama, dan Ali Murtopo, yang dulu berjasa menjadikan Soeharto sebagai Panglima Kodam Diponegoro, ditarik Soeharto ke Jakarta untuk menjadi Kepala Intel KOSTRAD pada Januari 1965, ketika sedang bertugas sebagai atase di Yugoslavia.

Yang menarik dari peristiwa 1 Oktober 1965, adalah ketika trio utama dan yang pertama (Soeharto – Letkol Untung – Latief) dirancang untuk dikorbankan, sedangkan yang dipakai kemudian adalah Trio Kedua, pembakar emosi rakyat (Soeharto – Yoga Sugama – Ali Murtopo). Kedua trio ini sama – sama berasal dari Kodam Diponegoro. Soebandrio juga mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 adalah sebagai KUDETA MERANGKAK yang dilakukan Soeharto untuk menggulingkan Soekarno. Yang melalui tahap-tahap:

  1. Menyingkirkan para saingannya di Angkatan Darat seperti Jenderal Ahmad Yani, dkk.
  2. Membubarkan PKI sebagai rival terberat Angkatan Darat pada saat itu.
  3. Menangkap 15 menteri kabinet yang pro terhadap Soekarno, termasuk Soebandrio dan mengisi kabinet yang pro-Soeharto.
  4. Menggulingkan Soekarno.

Jika kita bisa kaitkan analisis ini pada peristiwa sebenarnya, adalah yakni dengan membunuh para Jendral pada peristiwa G 30 S, mempropagandakan PKI sebagai dalang G 30 S, dan menjebak Soekarno pada ajarannya sendiri (senjata makan tuan). Setelah itu, membuat perjanjian SUPERSEMAR dan menggunakannya untuk membubarkan PKI serta merombak para menteri dan anggota MPR yang pro-Soekarno dengan alasan bahwa mereka terlibat PKI dan mengisinya dengan pro-Soeharto. Nah, setelah itu, tinggal menunggu waktu sampai MPR memecat Soekarno dari jabatan Presiden.

BANGKITKAN RASA NASIONALISME KITA

Salam Kemerdekaan (Bossga)

10 pemikiran pada “Kudeta Terarah

  1. Salam merdeka..
    membaca tulisan anda ini, saya benar-benar terharu,juga tersayat,
    karena begitu hebatnya perekayasaan fakta sejarah yang dilakukan orde baru dengan suharto nya..
    dan tersayat dengan perlakuannya terhadap Bungkarno.

    Salam dari pengagum BK..

  2. seperti yg ku duga sebelumnya… bahwa G30S/PKI itu memang kerjaan Soeharto cs.
    pertama : Kenapa Soeharto tidak dibunuh juga pada saat itu??? bukankah beliau jg seorang jendral.
    kedua : Kenapa Soeharto yang dipilih mendapatkan perintah SUPERSEMAR??? padahal kita tahu masih ada Jenderal dengan pangkat yang lebih tinggi dari beliau.
    ketiga : Dimanakah dokumen asli SUPERSEMAR tersimpan??? tidak ada yang tahu hingga saat ini. bisa jadi hanya akal2an saja

    1. ketika G 30 S itu berlangsung, pangkat beliau sebenarnya bukanlah seorang Jenderal melainkan Panglima KOSTRAD, akan tetapi jabatan ini cukup strategis untuk menjadi ancaman bagi PKI jika memang PKI yang benar2 melakukannya. Terima Kasih atas komentarnya bung..

      Salam Merdeka!

  3. Sejarah gestok( BK menyebutnya), sekarang sudah terkuak, walau masih banyak yang ragu. bagi sy, sudah selesai.. alias dalang, inisiator dgn konspirasi strategi timing situation nya dah terkuak dgn GAMBLANG !

    Yang menjadi pertanyaan di benak sy pribadi, sudah terbukakah hati Negeri ini untuk sanggup mengatakan kejujuran dari semua ke BULSHIIT an yang dikarang suharto dgn antek2 nya, selama kurun waktu tidak sebentar itu ??!

    wassalam

    Merdeka !!

  4. Untuk lebih meyakinkan lagi bahwa soehartolah bangsat di balik G30S PKI, saya punya tambahan nie gan, silahkan di simak :

    Bagaimana mungkin PKI yang merupakan Partai Politik mampu membunuh para Jenderal AD sementara saya lihat pengawalan seorang Jenderal itu sangat ketat bahkan saya berpikir membunuh Prajurit Tentra biasa saja bukan hal yang mudah karena mereka punya keterampilan dalam berperang dan jangan lupa mereka di bekali Senapan Serbu, apalagi seorang Jenderal sudah bisa di bayangkan.
    Bagaimana mungkin Soeharto yang merupakan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (KOSTRAD) tidak menjadi sasaran gerakan G30S PKI, perlu di ingat KOSTRAD merupakan kekuatan inti komando mandala dalam tugas oprasi trikora, posisinya sangat berbahaya jika tidak di lenyapkan.
    Soeharto pernah mengakui bahwa pada malam 30 September 1965 sehabis pulang dari rumah sakit dia melihat kumpulan prajurit berseragam dan bersenjata lengkap, dia kemudian pulang kerumah dan tidur katanya dan tidak menghiraukan mereka, ini pengakuannya sendiri loh kepada wartawan, saya berpikir ko aneh ya kenapa tidak menemui mereka dia kan Jenderal, sementara dia tau pada saat itu tidak ada tugas Pengawalan atau apapun sedang apa mereka kalo menurut saya.
    Sebelum 30 September 1965 Soeharto mendatangkan prajurit di bawah kendalinya dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur secara besar-besaran ke Jakarta yang katanya untuk memperingati hari ABRI tanggal 5 Oktober 1965 padahal mereka di datangkan sebelum 30 Oktober 1965 (Mereka ini lah nantinya yang membantai semua PKI di jakarta), saya berpikir kalo memperingati hari Abri ngapain jauh-jauh sebelum tanggal 30 September 1965 sedangkan hari ABRI itu tanggal 5 Oktober.
    Di dalam buku sejarah dan juga banyak saksi hidup mengatakan bahwa pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 para prajurit di bawah kendali Soeharto sudah bersiap-siap di sekitar monas dan bersenjata lengkap sementara pada saat itu tidak ada tugas pengawalan atau semacamnya, pikiran saya pribadi Bagaimana mungkin Soeharto mengirimkan prajuritnya pagi-pagi sekali di sekitar monas dengan bersenjata lengkap kalo dia tidak tahu bakal terjadi G30S PKI, sedangkan pada saat itu kan alat komunikasi terbatas, mana ada yang punya HP.
    Bagaimana mungkin Soeharto bisa langsung mengetahui bahwa pelaku G30S PKI itu di dalangi PKI sementara dia mengakui sendiri bahwa pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi dia baru bangun tidur.
    Mengapa Soeharto menuduh Bung Karno dan Kabinetnya terlibat dalam G30S PKI yang katanya ingin melakukan KUDETA (Pengambil Alihan Kekuasaan yang Syah) sementara pada saat itu kan Bung karno adalah Presiden seumur hidup dan merupakan Pemimpin Besar Revolusi, pandangan orang bodoh seperti saya adalah Bagaimana mungkin seseorang Mengkudeta dirinya sendiri.

    1. saya hampir sepikir dengan anda bung. Namun, Soeharto tetap Presiden yang berjasa bagi negara. Sehingga kita harus tetap menghormatinya. Saya kira tidak pantas kita menghina ia secara berlebihan

      1. Iya benar juga Bung, dia sangat berjasa….Berjasa mengacak-mengacak Negeri ini, menggadaikan Indonesia ke Word Bak, menelantarkan pemimpin besar Revolusi pendiri dan penggagas Negara Indonesia sakit sampai menemui Azal, Menghabisi lawan politik dengan menuduh terlibat G30s PKI dan terus di kirim ke Akherat, dan MEMBODOHI RAKYAT SELAMA PULUHAN TAHUN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s