Pertempoeran Soerabaja

Pertempuran Surabaya atau Peristiwa 10 November 1945 dipicu oleh kedatangan pasukan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) di Indonesia. AFNEI merupakan pasukan yang dibentuk khusus oleh blok Sekutu yang dominan berisikan orang-orang Inggris, yakni untuk bertugas:

  1. Melucuti tentara Jepang,
  2. Membebaskan para tawanan Jepang yang ditahan di Indonesia,
  3. Memulangkan tentara Jepang ke negerinya

Tapi ternyata kebusukan AFNEI terhembus oleh sejumlah pejuang negeri ini. AFNEI mempunyai misi lain, yakni mengembalikan Indonesia ke tangan kolonialisme Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya pasukan-pasukan tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris di AFNEI. Hal tersebut memicu gejolak rakyat Indonesia untuk mengadakan perlawanan terhadap tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

PEROBEKAN BENDERA HOTEL YAMATO

Pemerintah Indonesia mengeluarkan perintah tertanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa bendera nasional Indonesia, MERAH-PUTIH harus dikibarkan di seluruh Indonesia.

Ketika tentara AFNEI mendarat di bumi arek-arek Suroboyo pada tanggal 25 oktober 1945, Bendera Merah Putih telah berkibar dan telah dikibarkan luas di seluruh kawasan Surabaya. Bentrokan di Hotel Yamato (dulu Oranje Hotel) dimulai ketika Belanda mengibarkan benderanya diatas gedung hotel. Sontak rakyat Surabaya yang ketika itu diselimuti semangat kemerdekaan menuntut penurunan bendera Belanda. Perundingan antara kedua kubu pun terjadi. Akan tetapi, pihak Hotel yang dikuasai Belanda menolak untuk menurunkan bendera Belanda karena mereka tidak mengakui kedaulatan Indonesia. Kericuhan pun tak terelakkan. Amarah rakyat di luar gedung memaksa mereka memanjat gedung itu sendirian. Seorang pemuda berhasil naik dan merobek warna biru dari bendera Belanda tersebut dan mengibarkan Bendera Merah Putih. Sejak saat itulah Pihak AFNEI bersitegang dengan rakyat Surabaya.

Tindakan pasukan AFNEI yang menuntut dan mengancam rakyat untuk menyerahkan senjatanya, semakin membakar emosi rakyat. Pertempuran-pertempuran kecil pun terjadi. Hal ini memicu banyaknya serangan umum yang dilakukan kedua kubu yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak.

Serangan umum yang dilakukan rakyat dalam menyerbu markas-markas AFNEI menuntut AFNEI untuk melakukan tindakan. Gerakan perlawanan ini telah mengancam kedudukan AFNEI di Surabaya. Banyak korban dari tentara Inggris (AFNEI) berjatuhan. AFNEI kemudian meminta bantuan orang nomor satu di Indonesia tersebut. Mereka meminta Presiden Soekarno dan Hatta untuk meredam amarah rakyat. Pemerintah RI di Jakarta meminta Surabaya menyambut baik kedatangan AFNEI dan menghentikan tembak menembak sampai mereka datang. Tanggal 29 Oktober 1945, Presiden didatangkan langsung ke Surabaya. Hal ini membuat AFNEI harus mengakui kedaulatan Indonesia. Presiden mengadakan perundingan dengan kesepakatan menghentikan proses tembak menembak.

Moestopo, pimpinan TKR di Jawa Timur terang-terangan menolak seruan pemerintah. Moestopo bersama sejumlah orang mengadakan gerilya. Perang gerilya membuat mereka mengalami penurunan fisik. Mereka akhirnya ditawan oleh Mayor Sabarudin atas perintah pemerintah pusat dan mengantarkannya untuk menghadiri rapat dengan Presiden RI.

Hatta menganggap Moestopo adalah biang kerok dari segala kegiatan tembak menembak di Surabaya. Akhirnya Moestopo dipensiunkan dan diangkat menjadi Penasihat Agung Presiden RI.

Selanjutnya, pemerintah mengadakan perundingan dengan pihak AFNEI yang menghasilkan:

  1. AFNEI membatalkan perintah melucuti senjata rakyat
  2. AFNEI mengakui TKR
  3. Tentara AFNEI ditarik dari gedung-gedung yang didudukinya dan berpusat di Tanjung Perak.

KEMATIAN WALLABY

Setelah perundingan itu rombongan Presiden kembali ke Jakarta, sedangkan pasukan AFNEI membentuk rombongan yang bertugas keliling Surabaya untuk menghentikan aksi tembak menembak. Rombongan mereka dikawal oleh mobil KEPOLISIAN RI. Ternyata, pasukan Inggris masih menduduki gedung Internatio. Tembak menembak terjadi disana. Tembak menembak dapat diredakan setelah Jendral Mallaby yang bertugas memimpin rombongan berbicara dengan komandan pasukan AFNEI diluar gedung. Rakyat tetap meminta Inggris untuk segera keluar dari gedung tersebut. Terjadilah perundingan antar 2 kubu. Jendral Mallaby disuruh untuk tetap didalam mobil sembari menunggu. Beberapa menit setelah kedua utusan masuk kedalam gedung, terdengar ada suara tembakan dari dalam gedung, sontak rakyat Surabaya langsung memulai aksi tembak menembak mereka.

Keesokan harinya, tersiar kabar bahwa Jendral Mallaby tewas dalam keadaan hangus terbakar didalam mobilnya. Setelah diselidiki, penyebab tewasnya Jendral mallaby ternyata karena mobil tersebut meledak. Tentu AFNEI tidak tinggal diam menerima keadaan ini, mereka menuduh rakyatlah yang telah meledakkan mobil Jendral tersebut. Padahal setelah diselidiki oleh para ahli sejarah, ternyata telah terjadi kesalah pahaman antar pihak AFNEI.

Mayor Jendral Masergh yang ditugaskan menggantikan Mallaby langsung memerintahkan pasukannya untuk mengepung wilayah Surabaya. Tertanggal 3 November 1945, bantuan militer dikirimkan ke Surabaya untuk memborbardir Surabaya. Hal ini jelas bertentangan dengan perundingan Inggris dengan pemerintah sebelumnya.

Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya. Ia menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Jelas, rakyat tidak ada yang mematuhi perintah ini. Mereka lebih memilih mati daripada harus dijajah kembali. Mereka merasa terhina, karena Indonesia seakan-akan tidak diakui.

PERANG DIMULAI

Pihak TKR Surabaya kemudian menghubungi Jakarta untuk menanyakan keputusan, pemerintah menyerahkan seluruhnya kepada Surabaya. Pada akhirnya, para pemuda Surabaya membuat sebuah sumpah:

SOEMPAH KEBOELATAN TEKAD

Tetap Merdeka !

Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia dilaporkan pada tanggal 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan soenggoeh-soenggoeh, penoeh tanggoeng djawab, ikhlas berkorban dengan tekad MERDEKA atau MATI !!!

Sekali merdeka tetap merdeka !

Soerabaja, 9 November 1945

Ttd (para pemimpin TKR)

Pada tanggal 10 November 1945 pagi hari, pasukan Mansergh membombardir seluruh wilayah Surabaya dari darat, udara dan laut. Kemudian, terdengarlah nama seorang Bung Tomo yang berpengaruh besar di mata seluruh masyarakat Surabaya. Ia terus menggerakkan semangat perlawanan rakyat Surabaya menghadapi serangan skala besar dari AFNEI. Tokoh-tokoh lain pun membantu menggerakkan semangat sehingga perlawanan rakyat Surabaya semakin menjadi-jadi. Pertempuran ini memakan waktu selama 10 hari dan seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris pada tanggal 20 November 1945.

Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940an. Pertempuran ini menghasilkan puluhan ribu tewas, baik dari pihak AFNEI maupun Indonesia.

Pertempuran ini membuktikan bahwa kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah itu nyata. Oleh karena itu, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai HARI PAHLAWAN NASIONAL.

Selamat Hari Pahlawan, (Bossga)

(Pustaka: Kompasiana, Wikipedia Indonesia, Suparto Brata)

4 pemikiran pada “Pertempoeran Soerabaja

  1. ini merupakan pertempuran paling gemilang. Karena selama lebih dari 5 tahun perang dunia, Inggris melawan Jerman yang memiliki senjata canggih, tapi tak ada satupun Jendral Inggris yg menjadi korban. Tapi hanya dalam 5 minggu di Surabaya, 2 jendral Inggris jadi korban, padahal prajurit cuma pakai bedil nippon.

  2. COBA RENUNGKAN peristiwa saat itu,?sungguh mengerikan.mental arek2 surabaya sngguh 2jempol,TOP BGT …..ayo sama sama kita tiru semangat juangnya…………………………………………………………..

  3. Coba bangsa kita bisa mengingat bagaimana pengorbanan dan perjuangan rakyat pada masa itu demi sebuah kata “MERDEKA” semua bersama-sama berjuang fisik dan pikiran. Kami bangga padamu pahlawan!🙂 Kami tidak ada apa-apanya banding kalian. Nyawa kalian terlalu suci untuk masuk neraka.

    Pak Karno, tolong kami. Bangsa kami sedang hancur karena moral pemerintah yang rusak.😦 Tapi sangat mustahil anda bisa kembali.

    Kamilah yang akan meneruskan perjuangan kalian para pahlawanku. Meskipun ragamu telah tiada, tetapi semangatmu masih ada dalam jiwaku!
    SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!

  4. semangat juang yang tinggi, rakyat jelata derita. kapankah saya akan membangkit rakyat jelata yang berada dibawah garis kemiskinan. sungguh moral egoisme tinggi, namun yg lainnya tidak dapat dihiraukan lagi. Apakah besok atau lusa mendapat angin segar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s