18 Agustus Hari Konstitusi Indonesia

17 Agustus 1945

Pagi itu Bung Karno tampak sakit. Ia tampak letih karena kesibukannya dalam menyusun naskah proklamasi serta peristiwa Rengasdengklok baru saja ia alami. Pukul 09.30, ia dibangunkan untuk bersiap-siap untuk mengumumkan naskah ‘sakral’, proklamasi. Apa yang terjadi berikutnya? Bung Karno bukannya bersedia, malah meminta agar menunggu sampai Bung Hatta tiba. Lima menit sebelum pukul 10.00, seperti biasanya Bung Hatta tidak pernah terlambat untuk datang.

Singkat cerita, Bung Karno akhirnya mengumumkan proklamasi kepada rakyat Indonesia ditemani Bung Hatta tepat pukul 10.00. Tidak sampai sehari pasca peristiwa ‘sakral’ tersebut, para pemuda langsung menyiarkan rekaman proklamasi tersebut kepada seluruh penjuru tanah air melalui radio ‘gelap’.

18 Agustus 1945

Lembaran sejarah bangsa dimulai. Di saat rakyat dan pemimpin-pemimpinnya sedang bersiap-siap mempertahankan kemerdekaan, para anggota PPKI memulai sidangnya yang pertama. Rapat dimulai pukul 11.30, dengan agenda pengesahan UU Dasar Negara Indonesia yang dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI.

Sebelum rapat di gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang Deplu) dimulai, Bung Karno dan Bung Hatta meminta Ki Bagus Hadikusumo, KH Wachid Hasjim, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Moh. Hasan membahas rancangan UU yang sebelumnya telah dibahas Panitia Sembilan pada tanggal 22 Juni 1945. Terutama mereka diharapkan membahas kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang sarat akan nilai persatuan Indonesia.

Tepat 15 menit sebelum rapat dimulai, dicapai kata sepakat dengan menghapus kalimat tadi menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi persatuan dan kesatuan bangsa. Itulah sila pertama Pancasila, dasar negara kita.

Pukul 11.30 rapat dimulai. Pembahasan rancangan UU Dasar yang telah dibuat oleh BPUPKI sebelumnya dirampungkan tidak lebih dari 2 jam, berikut pasal-pasal aturan peralihan dan aturan tambahan. Pada pukul 13.50 disahkanlah Rancangan dan Pembukaan UU Dasar Negara Republik Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasar negaranya. Hal inilah yang kemudian kita kenal sebagai UUD 1945 atau UUD ’45.

Di kemudian hari, tanggal 18 Agustus ditetapkan sebagai Hari Konstitusi.

Sidang dibuka kembali pada pukul 15.30 dan mensahkan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pertama. Itu berkat usulan jitu Otto Iskandar Dinata yang kemudian disetujui oleh semua anggota PPKI.

Agenda persidangan pada hari yang sama selanjutnya  adalah membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas Presiden sebelum MPR dan DPR terbentuk.

Inilah awal mula konstitusi Republik Indonesia. Tentu ini dimaksudkan agar kelak Indonesia menjadi negara yang damai, adil, dan makmur, yang sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia serta perwujudan dasar negara Pancasila. Sekarang dengan segala kemudahan yang telah kita terima dari pendahulu kita, masihkah ‘kita’ memakai konstitusi Indonesia sebagai alat berpolitik yang justru menguntungkan diri sendiri dan menyengsarakan orang lain? Sungguh ironi.

“Mari pemuda, kita lah generasi penerus dan pengubah. Mari kita perbaiki dan kembalikan Indonesia ke jalur yang dicita-citakan para pendahulu kita, yakni KEMERDEKAAN INDONESIA YANG SEJATI!

Salam Indonesia !!!


sumber: “Bung Karno, diantara Saksi dan Peristiwa” – KOMPAS, dengan berbagai perubahan.

2 pemikiran pada “18 Agustus Hari Konstitusi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s