Hilangnya Jiwa Nasionalis Bangsa

Bangsa ini seakan kehilangan jati dirinya. Semua dianggap dapat dibayar dengan uang. Korupsi dimana-mana, keadilan selalu hanya tajam kebawah, penjajahan ekonomi asing merajalela, bahkan banyak orang mulai melupakan hakikat Pancasila dan Sang Merah Putih.  Ini membuat bangsa ini memiliki krisis nasionalisme di pikiran pikiran rakyatnya.

Memang tak ada lagi pekikan kata “MERDEKA!!!” yang diteriakkan rakyat di jalan-jalan, karena memang bangsa kita telah merdeka dari penjajahan kolonial. Baiklah, memang kata itu mungkin sudah tidak cocok diucapkan selain di masa – masa peringatan proklamasi. Tetapi, apakah dengan mulai redupnya kata itu, kita juga kehilangan rasa nasionalis kita.

Baiklah saya bercerita sedikit. Di sekolah saya setiap pulang sekolah, selalu ditutup dengan doa dan penghormatan terhadap bendera merah putih. Ada yang serius menghormatinya (termasuk saya hehe), namun ada pula yang hormatnya setengah-setengah. Bahkan jika guru tidak mengawasi, ada yang sama sekali tidak mau mengormati bendera. Ironis sekli. Apakah hal tersebut dipicu karena isu pengharaman menghormat bendera, atau karena memang malas dan menganggap bahwa itu tidak ada gunanya?

Bendera negara kita yang begitu diperjuangkan para pendahulu kita memang hanyalah kain merah dan putih. Tapi apakah hanya sebatas itu? TIDAK! Sekali lagi Tidak! Saat ini kita telah diberi kebebasan memberi hormat kepada bendera, tanpa ada batasan maupun larangan. Bayangkan saja ketika dulu kita  terancam dibunuh kaum penjajah kalau kita memasang bendera merah putih, apalagi menghormatinya. Namun sekarang kita tidak perlu khawatir akan adanya peluru yang datang dari kiri-kanan kita jika kita menghormati bendera kita.

Bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang secara singkat disebut Bendera Negara, adalah ‘Sang Merah Putih’. Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

Jika kita kembali menilik ke belakang, ke tragedi Hotel Yamato. Rakyat Bandung dengan nyawanya rela berkorban hanya untuk mengganti kain bendera Belanda dengan kain bendera Indonesia. Terkadang beberapa orang di zaman ini berpikir, “Buat apa sih sampe sebegitunya? Itu kan hanyalah sebuah kain saja”. Bukan itu maknanya. Bendera adalah lambang negara, lambang pemersatu bangsa, lambang kemerdekaan. Artinya, jika bendera merah putih masih berkibar, kita telah dipersatukan untuk dapat merasakan kemerdekaan Indonesia.

Jika kita masih bisa menghormati bendera itu, artinya kita masih boleh merasakan kemerdekaan sejati yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita patut mensyukuri itu. Menurut saya, Sang Merah Putih bukanlah sesuatu yang pantas untuk diharamkan atau dilecehkan.

Bendera Indonesia bukan sembarangan bendera. Merah berarti darah (berani), putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh, putih melambangkan jiwa. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia yang teguh.

SEJARAH BENDERA

Sejak dahulu, warna merah dan putih identik dengan Nusantara. Bahkan hingga Jepang dan Belanda pun turut membawa pengaruhnya dengan benderanya yang berunsur merah dan putih.

Prapanca di dalam buku karangannya Negara Kertagama menceritakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389. Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.

Bahkan sebelum Majapahit berkuasa, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih di kehidupan istananya. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih.

Pada abad XX, bendera merah putih sebagai lambang kemerdekaan dikibarkan di benua Eropa. Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya.

Akhirnya, Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta beserta rakyat Jakarta di Jl. Pegangsaan Timur 56, Jakarta, mengibarkan bendera merah putih atas nama bangsa Indonesia. Inilah pertama kalinya bendera merah putih dikibarkan di Indonesia.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menetapkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.

Dengan demikian sejak ditetapkannya UUD 1945, secara sah Sang Merah Putih merupakan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sehingga, sejak ditetapkannya Sang Merah Putih sebagai bendera resmi negara. Setiap orang dilarang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara;

  1. memakai Bendera Negara untuk reklame atau iklan komersial;
  2. mengibarkan Bendera Negara yang rusak, robek, luntur, kusut, atau kusam;
  3. mencetak, menyulam, dan menulis huruf, angka, gambar atau tanda lain dan memasang lencana atau benda apapun pada Bendera Negara; dan
  4. memakai Bendera Negara untuk langit-langit, atap, pembungkus barang, dan tutup barang yang dapat menurunkan kehormatan Bendera Negara.
Hormatilah bendera kita, dimanapun, kapanpun, siapapun dan bagaimanapun kamu yang berstatus Warga Negara Indonesia. Karena inilah bendera yang diperjuangkan pendahulu kita untuk melepaskan kita dari tangan para penjajah!  (Bossga)

Salam Nasionalis!

sumber: http://pramuka.net, dan http://id.wikipedia.org

3 pemikiran pada “Hilangnya Jiwa Nasionalis Bangsa

  1. ada satu permintaan bahwa saya diperkenankan mengutip beberapa baris dari tulisan ini untuk saya gunakan dalam tulisan saya “Nasionalis Indonesia Dalam Perangko” (saya seorang pengumpul perangko dan telah memilih tematik gambar para tokoh dalam perangko. Saya berharap dapat menerima kabar positif dari anda dan sebulumnya saya ucapkan terima kasih. Wasalam Wahjonohardjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s