Krisis Mental Pemuda Masa Kini

Rasa benci terhadap kelompok lain sepertinya sudah mendarah daging di otak para pelajar akhir-akhir ini.

Perih rasanya mendengar berita kematian 2 orang siswa sekolah menengah atas yang terjadi hampir berbarengan. Dikatakan perih karena mereka mati dengan cara yang sungguh ironi, yakni dalam sebuah tragedi tawuran. Tawuran memang sedang menjadi topik hangat dalam beberapa minggu terakhir. Terakhir, kasus pembunuhan Denny Yanuar, siswa SMA Yayasan karya 66, yang mati dalam sebuah perkelahian antar 2 kelompok pelajar.

Berikut kronologi singkat yang dipaparkan Metro TV:

Denny tewas disabet arit oleh AD, siswa SMK di Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu siang. Pemicunya adalah permusuhan sejak lama antara sekolah Denny dan sekolah AD. Kebetulan kedua kelompok pelajar itu berpapasan saat turun bus di Minangkabau.

Kelompok siswa yang berjumlah sekitar 20 orang mengejar Denny dan kawan-kawan yang hanya delapan orang. Kontan kedelapan pelajar itu melarikan diri. Namun, Denny tertinggal hingga akhirnya jadi sasaran pihak lawan. Ia disabet arit oleh AD di bagian dada dan pinggang. Denny tewas, AD ditangkap dua jam kemudian.

Sungguh ironi bukan? Apa yang ada di benak kita melihat kasus ini? Kasus ini baru satu dari sekian banyak kasus serupa yang terjadi di nusantara. Ini baru kasus yang terpublikasi. Belum lagi ditambah dengan berbagai kasus tawuran di daerah daerah yang belum terpublikasi.

Tawuran merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja yang sering kita jumpai.

*klik link diatas untuk mengetahui lebih lanjut tentang kenakalan remaja

Dari kacamata saya, seorang murid sekolah menengah atas, tragedi tawuran terjadi karena adanya pemikiran “laki-laki itu kalau mau dibilang gentle, maka harus punya nyali atau otot”. Saya jujur belum pernah tawuran semasa hidup saya, dan tak akan pernah melakukannya. Biasanya seseorang akan dikucilkan apabila tidak mau ikut dalam kegiatan ‘rutin’ ini. Senior biasanya akan mem-‘bully’ junior juniornya yang tidak mau nurut sama senior.

Jadi bisa disimpulkan bahwa, banyak dari para pelajar yang ikut tawuran hanya sekedar trend mengikuti kegiatan kakak kelasnya, tanpa harus mengetahui terlebih dahulu asal usul dan latar belakang permasalahan diantara kedua kelompok sekolah.

Saya yakin, tak ada sekolah yang mengajarkan kekerasan ke benak murid muridnya.

Bangsa ini mengalami krisis mental. Sekolah terkesan hanya mengajarkan materi saja tanpa membekali siswa dengan moral. Apalagi ditambah banyaknya orang tua murid yg lepas tangan untuk mendidik anaknya kepada sekolah. Kebanyakan para orang tua menghiraukan pendidikan kasih sayang dari keluarga. Padahal, pendidikan moral yg terbaik dimulai dari didikan dan kasih sayang keluarga. Karna sesungguhnya segala sesuatu dimulai dari keluarga.

Lihatlah, generasi bangsa saat ini. Kalangan elit di negeri ini sudah terlalu banyak berbohong. Belum lagi perilaku pemuda nya yang liar. Mengapa semua itu terjadi? Seperti yang sudah saya katakan. Mereka tidak menerima bekal kasih sayang dan kejujuran yang cukup dari keluarga.

Oleh karena itu, patutlah orang tua mengajarkan cinta kasih kepada anak sejak kecil, guna mengatur mind set mereka dlm menyikapi suatu masalah. Sehingga suatu masalah tidak langsung diselesaikan menggunakan otot, melainkan dipikirkan dengan bijaksana terlebih dahulu menggunakan akal sehat.

Selain itu, patutlah tiap tiap orang tua dan sekolah mengawasi pergaulan anaknya di luar jam sekolah. Dan alangkah lebih baik lagi apabila pemerintah melihat akar dari permasalahan mental bangsa ini secara serius, sehingga pemerintah dapat memperbaiki kurikulum yang ada.

Salam Nasionalis! (Bossga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s