Menggugat Kualitas Para Caleg Artis

Gambar

Tahun 2014 bisa disebut sebagai ‘tahun politik’. Banyak partai getol berkampanye dan mengorbitkan para kadernya untuk menarik dukungan sebanyak mungkin dari masyarakat. Banyak cara mereka tempuh untuk mendulang suara, seperti dengan memasang baliho, kampanye politik, mengubar-ubar janji, memberi bantuan atas nama partai atau calon pejabat, hingga mengajak para artis beken untuk ikut memperebutkan kursi di legislatif.

Pemilihan Umum tahun ini nampaknya segar karena banyak dari calon anggota parlemen merupakan artis yang biasa tampil di televisi-televisi maupun panggung-panggung hiburan. Partai politik ramai-ramai merekrut para calon legislator berlatar belakang artis guna mendulang suara. Mungkin cara ini diprediksi sangat cocok untuk diterapkan pada pemilu tahun ini karena antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap para artis. Namun, satu hal yang perlu dikritisi disini adalah timbulnya keraguan publik terhadap kemampuan para artis yang mencalonkan diri di parlemen. Publik ragu dengan kualitas mereka.

Beberapa nama artis telah terpilih pada periode lalu, seperti Rieke Diah Pitaloka, Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Vena Melinda, dan Okky Asokwati. Sedangkan tahun ini, muncul segerombolan artis baru yang tertarik mengikuti jejak pendahulunya, diantaranya ada Yessy Gusman, Nico Siahaan, Sony Tulung, Edo Kondologit, Jane Shalimar, Jamal Mirdad, Rachel Maryam, Bella Saphira, Anang Hermansyah, Dwiki Dharmawan, Desy Ratnasari, Hengki Kurniawan, Jeremy Thomas, Mat Solar hingga Angel Lelga.

Memang kita selayaknya tidak memandang sebelah mata potensi mereka dalam berpolitik, tetapi bukan berarti kita juga menggeneralisasikan kualitas mereka. Sebab pada hakikatnya, tiap manusia itu berbeda-beda kemampuannya. Ada yang memang berkompeten, tetapi ada juga yang tidak. Harus diakui bahwa dalam urusan dunia hiburan, mereka adalah maestro-nya. Namun apakah dalam dunia politik mereka bisa melakukan hal yang sama ditengah banyaknya problematika bangsa ini yang tidak bisa diurus hanya dengan manggung dan joget-joget?

Duduk dan mewakili aspirasi dan kebutuhan masyarakat di Senayan bukanlah sebuah pekerjaan ataupun profesi. Itu merupakan wujud pengabdian kita untuk memajukan negeri ini, bakti kita kepada nusa dan bangsa. Sebab bagaimanapun juga kelangsungan hidup Indonesia ada di tangan para pengisi kursi di DPR maupun DPD dan DPRD, sehingga sudah sepatutnya partai tidak asal mencomot orang yang hanya bermodalkan nama beken.

Apa boleh dikata? setiap warga negara berhak ikut berpartisipasi dalam politik dan mempunyai hak yang sama untuk duduk dalam pemerintahan. Tinggal kita sebagai masyarakat yang harus pintar-pintar memilih mereka-mereka yang akan tampil di surat suara pada tanggal 9 April 2014.

Masyarakat membutuhkan wakil-wakil rakyat yang sehat dan mengerti kebutuhan masyarakat, bukan yang menjadi hiburan di Senayan. Masyarakat muak dengan rekrutmen artis yang asal-asalan dan hanya sekedar untuk mendulang suara. Inilah yang harusnya disadari oleh para elit-elit partai politik sebagai agen penyalur aspirasi masyarakat dalam pemerintahan.

Salam Demokrasi! (Bossga)

*tulisan ini merupakan tulisan saya yang diambil dari artikel “Selisip” Viaduct Edisi Pelatihan Jurnalistik 2013/2014 dengan berbagai perubahan

*foto diambil dari web Partai Hanura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s