Semarak Pemilu Jangan Sampai Membuat Pilu

gambar ini diambil dari neverblast.blogspot.com

Indonesia ditengah semarak. Bukan semarak Piala Dunia, melainkan semarak milih penerus trah Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono yang sebentar lagi akan turun dari singgasana Jalan Merdeka Utara.

Peta kekuatan politik kini terpusat pada kedua sosok Calon Presiden. Yang satu berasal dari garis militer yang terkesan dengan ketegasan, jendral, dan harta nya yang melimpah. Yang satu terkenal dengan kesederhanaan dan hobinya yang turun gunung untuk bertemu dengan rakyatnya. Maklum, kata ‘rakyatnya’ saya gunakan karena memang sosok yang saat ini nge-trend dengan baju kotak-kotak itu sebelum bertarung dalam Pilpres tahun ini, beliau pernahmenjadi Gubernur dan Walikota.

Ya, mereka adalah pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Radjasa dengan nomor urut 1 (satu), dan pasangan  Joko Widodo dan Jusuf Kalla dengan nomor urut 2 (dua).

Rakyat dihadapkan pada dua pilihan. Sisi baiknya, negara tidak perlu mengeluarkan uang berlipat ganda untuk membiayai pemilu ulang seperti pemilu-pemilu di daerah yang selama ini banyak diliputi kontroversi. Masyarakat juga dihadapkan pada situasi dimana mereka tinggal memilih salah satu diantara dua pilihan saja. Masyarakat akan semakin mudah mengenal kedua pasangan calon Presiden ini karena yang diberitakan setiap hari ya pasti kalo gak si Bowo ya si Joko. Tinggal milih, gitu aja kok repot ?

Negatifnya, pemilu 2014 ini membawa potensi konflik antar kubu. Menurut data yang disajikan oleh beberapa media nasional dalam beberapa minggu terakhir, merupakan Pemilu yang banyak diliputi oleh kampanye hitam dari masing-masing kubu. Entah lewat sindiran-sindiran, menguak masa lalu, fitnah, ataupun gambar-gambar yang saling menyudutkan yang hadir di media sosial. Belum lagi ketidak netralan beberapa media nasional yang bahkan secara terang-terangan mengangkat berita yang tidak berimbang demi mengangkat nama calon yang diusung oleh pemilik media tersebut.

Pengamat komunikasi politik Rosdiansyah menilai, media yang benar-benar independensi dan netral dalam ajang pilpres hampir tidak ada, karena setiap media mempunyai kepentingan dari capres tertentu, sehingga terjadi anarkisme media. Media merah tiap hari tanpa habis selalu mengangkat sosok Prabowo dan mengkritik kebijakan dan kinerja Jokowi. Media biru juga tak kalah. Meskipun sedikit terlihat agak netral, tapi sebenarnya pemberitaan yang sering mereka bawakan cenderung seputar Jokowi-JK saja. Padahal seharusnya media menjadi sarana edukasi  bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan pencerahan dalam menangkap informasi.

gambar diambil dari sorotnews.com

“Media harus punya idealisme. Termasuk boleh mempunyai idealisme untuk mendukung salah satu kubu. Namun, mereka tetap harus membawakan konten yang berimbang dan sesuai dengan fakta.” Ujar Wina Armada Sukardi, jurnalis senior Indonesia, ditengah diskusi film ‘Balibo’ yang diadakan Viaduct (5/6/2014).

Apabila boleh pilpres kali ini saya umpamakan dengan permainan tinju. Sepertinya yang akan naik ke ring bukanlah si Kurus maupun si Tambun, melainkan para pendukung fanatic dan pemilik media dari kedua kubu. Apa boleh dikata, nyatanya memang banyak para simpatisan yang buta akan kekuatan lawan politiknya sampai-sampai mereka rela melakukan apa saja demi memenangkan tuannya. Mereka begitu mengagung-agungkan ‘founding fathers’ mereka hingga lupa akan tujuan dari pilpres, yakni kemajuan bangsa sendiri. Mungkin apabila pemikiran masyarakat sedikit objektif, akan timbul kedamaian diantara bangsa Indonesia.

Bukan hanya para simpatisan biasa dan netralitas media yang perlu dikhawatirkan. Tetapi juga para pemangku jabatan yang memiliki pesanan kepentingan dari partainya. Pagi hari tadi contohnya, saya menjalani kehidupan pagi saya menuju kampus seperti biasa. Matahari baru saja menampilkan wajahnya kepada bumi, eh saya sudah dicegat oleh pemberitaan di media “Suara Pembaruan” edisi Kamis 26 Juni 2014 yang menampilkan headline “Jaga Netralitas Kepala Daerah”. Sejenak saya merenung mengingat Ahmad Heryawan, misalnya, yang nyata-nyata menemani Prabowo melakukan safari politik ke suatu daerah kecil di Jawa Barat. Kemudian ada lagi Wakil Wali Kota DIY, Imam Priyono, yang menemani kunjungan Jokowi-JK saat bersilaturahmi dengan Sri Sultan HB X pada tanggal 2 Juni 2014. Padahal beliau sendiri belum mendapat izin cuti resmi untuk melakukan kampanye.

“Sebagai kepala daerah, saya harus netral, karena saya adalah milik warga Kota Malang. Namun, sebagai pimpinan partai, saya patuh kepada putusan partai untuk memenangkan Jokowi-JK” ujar Walikota Malang yang jug Ketua DPC PKB, HM Anton.

Apakah itu tugas kepala daerah? Turut memenangkan tokoh yang diusung partainya? Bukankah seharusnya ia mengurusi tangisan rakyatnya yang masih membutuhkan belas kasihan dari pemimpin yang ia gantungkan harapannya?  Memang benar hampir semua pemimpin daerah pintar memisahkan jabatan mereka dengan kepentingan mereka dan tidak ada undang-undang yang melarang aktifitas tersebut selama tidak menggunakan fasilitas negara. Tapi tetap saja tidak sampai di hati nurani masyarakat yang menginginkan kenetralan pemimpinnya. Sebab dimanapun ia berada, seorang pemimpin, walaupun sedang cuti atau sedang tidak menggunakan fasilitasnya, tetaplah perwakilan dari jutaan jiwa rakyat daerahnya. Seyogyanya seorang pemimpin haruslah melepaskan jubah partai mereka kala diamanatkan oleh rakyat. Namun tampaknya hal itu sulit diterapkan di Indonesia yang masih ketinggalan puluhan langkah dibandingkan Amerika Serikat.

gambar diambil dari simplestudioonline.com

Semarak pemilu bolehlah kita rayakan dengan meriah, tapi jangan sampai memecah persatuan dan membuat masyarakat lupa akan tujuan pilpres kali ini ialah untuk kemajuan bangsa. Janganlah kita mau diadu domba oleh orang-orang yang berkepentingan dan mau dibayar oleh orang-orang yang melakukan serangan fajar. Bukan berarti kita menutup mata terhadap segala pemberitaan dan opini masyarakat. Namun, kita haruslah pintar-pintar mengolah isu-isu seputar pilpres untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan bagi kita untuk memilih.

Gunakanlah hak pilihmu dengan bijak. Kenali calon pemimpinmu dengan baik, apakah itu Prabowo-Hatta ataukah Jokowi-Kalla. Sebab perjalanan bangsa akan ditentukan akan menuju ke arah mana yakni pada tanggal 9 Juli 2014. Selamat memilih!

Salam Demokrasi! (Bossga)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s