Mencari Jalan Keluar di Negeri Pembajakan

Oleh      : Bossga Hutagalung dan Richard Yosafat

 Tulisan ini dimuat dalam Buletin Viaduct Edisi III, terbit pada pertengahan tahun 2014. Yang saya muat ini masih dalam bentuk mentahan / belum melewati proses editing.

Illustrasi | Sumber: telsetnews.com

Dahulu orang berbondong-bondong membeli kaset dan CD untuk mendengarkan sebuah lagu. Bahkan dulu, sebelum era internet masuk di Indonesia, piringan hitam dan gulungan kaset menjadi  primadona di mata masyarakat. Tak ayal, banyak orang yang rela merogoh koceknya dalam-dalam hanya untuk mendengar alunan melodi dan harmoni dari bintang pujaannya. Masyarakat mendapatkan kepuasannya, musisi mendapatkan pemasukan dari larisnya kaset dan CD yang terjual.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, masyarakat Indonesia kini sudah mengenal adanya unduh gratis. Keberadaan unduh gratis di internet kini sudah mulai menjamur. Hal ini berdampak pada tutupnya beberapa toko kaset dan CD yang disinyalir karena kebangkrutan akibat kalah bersaing dengan unduh gratis di internet. Situs-situs yang menyediakan layanan unduh gratis kini sangat mudah ditemukan dan digunakan. Bahkan anak-anak kecil pun sudah mengerti bagaimana cara mengunduh lagu secara gratis dari internet.

Maraknya pembajakan, tak bisa dipungkiri, merupakan akibat dari kemajuan teknologi. Sekarang jaman serba maju, semua dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Jika kita tidak mempunyai cukup uang atau bahkan malas mengeluarkan uang sebesar dua puluh lima ribu rupiah untuk sekeping album CD yang hanya berisi 8-12 lagu, kita bisa membeli kaset bajakan yang dijual kurang dari setengah harga satu keping CD asli di gerai dadakan pinggir jalan. Hal ini tentu akan berdampak negatif bagi kemajuan industri musik bangsa kita. Dengan maraknya pembajakan, seorang musisi yang harusnya mendapat bayaran atas hasil kerja kerasnya dalam membuat karya dan produser yang turut membiayai sekaligus memasarkan karya mereka menjadi bangkrut dan tidak bergairah lagi untuk berkarya. Nidji mengakui bahwa mereka rugi 80% dari hasil penjualan produk mereka baik fisik maupun digital sehingga mereka harus memutar otak demi keberlangsungan band mereka dari memperbanyak penampilannya di panggung, menjadi bintang iklan dan bintang film, mengisi musik soundtrack film, dan menjual merchandise. Gumilang Ramadhan, Direktur PT. Musica Studio’s bahkan secara terang-terangan mengatakan, “Kami kehilangan triliunan rupiah karena lagu diunduh secara ilegal,” di sela-sela acara Digital & Music Matters 2013 yang diadakan di Singapura, Mei 2013.

“Kami kehilangan triliunan rupiah karena lagu diunduh secara ilegal,” – Gumilang Ramadhan, Direktur PT. Musica Studio

Selain itu, negara juga turut merugi seiring maraknya pembajakan ini. Sebab pajak tidak mengalir ke kas negara. Padahal pajak menjadi faktor penting dalam pembangunan suatu negara. Seperti kata Direktur Penyidikan DJHKI Tosin Junansyah yang dilansir salah satu media nasional pada bulan Mei 2014 bahwa tahun 2011, kerugian negara tercatat mencapai Rp 43 triliun dan setiap tahunnya angka itu terus meningkat sebesar 25 persen.

Kiri ke kanan: Richard, Bang Bens, Saya
Kiri ke kanan: Richard, Bang Bens, Saya

Ditemui di kediamannya di daerah Cirendeu, Bens Leo, salah satu pengamat musik senior Indonesia yang berkonsentrasi di bidang hak cipta, mengungkapkan bahwa ada 2 istilah pembajakan. Yang pertama adalah pembajakan hak ekonomi, yakni dengan memasarkan, mengedarkan, atau memperjual belikan suatu karya cipta tanpa seijin dari penciptanya. Padahal setiap karya mempunyai hak cipta yang melekat pada penciptanya. Yang kedua adalah pembajakan hak moral dari para musisi. Contohnya seseorang mengambil melodi dari lagu lain, kemudian dibuat sedikit pengubahan melodi dan aransemen, lalu ia publikasikan sebagai karya yang ia ciptakan. Ini yang paling parah sebenarnya, karena ia tidak hanya mencatok karya orang lain, tapi mengklaim karya orang lain sebagai karyanya sendiri. Ini akan membuat jatuh moral dari penciptanya.

Bang Bens pun masih melanjutkan, katanya; “Terkait (pembajakan) hak moral, sampai saat ini pemerintah masih belum ada perkembangan berarti untuk menyelesaikan kasus kearah sana. Undang-undang Hak Cipta tidak melindungi hak moral dari para musisi. Karena kebanyakan yang diurusi adalah masalah pembajakan hak ekonomi. Padahal masalah (pembajakan hak moral) ini juga sangat penting.”

Salah satu solusi untuk menanggulangi pembajakan musik adalah dengan cara mendigitalisasi musik dari media fisik, seperti CD dan DVD kedalam bentuk digital. Memang kita harus mengakui bahwa saat ini penjualan musik secara fisik dalam bentuk kaset, CD, dan DVD sudah kurang digemari masyarakat. Para musisi juga tidak bisa lagi menaruh harapan pada penjualan fisik. Tapi sekali lagi bukan berarti kita meninggalkan karya fisik. Produk fisik tetap diperlukan dan sangat penting untuk kebutuhan musisi dalam memiliki bukti otentik bahwa ia pernah menciptakan sebuah karya musik. Karya fisik ini juga diperlukan oleh AMI dan WAMI sebagai bukti otentik untuk mensertifikasi sebuah karya.

Ada pula solusi aplikasi Ring Back Tone (RBT). Tetapi aplikasi ini mulai ditinggalkan 5 tahun belakangan. Aplikasi musik ini memberikan kesempatan bagi para pendengar music untuk mendengarkan music pengganti nada tunggu di telepon. Namun, menurut Bens Leo, ini bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan. Memang benar bahwa RBT tidak bisa dibajak, tetapi hasil penjualan RBT pun tidak menguntungkan para musisi. Sebab dari sekian banyak yang diterima dari hasil penjualan RBT, musisi pencipta lagunya paling hanya menerima sedikit. Selebihnya dibagi oleh provider telekomunikasi, produser, dan pihak-pihak terkait lainnya. Produser yang biasanya menerima persenan yang paling tinggi dari keuntungan penjualan RBT. Belum lagi RBT ini menimbulkan trend buruk bagi para musisi baru bahwa mereka cukup hanya menciptakan sebuah single untuk mengambil untung. Sehingga sedikit musisi baru sekarang yang menciptakan album.

Menanggapi hal ini, Bens Leo yang ternyata lulusan sarjana hukum berpesan bahwa untuk menyelesaikan kasus ini, tidak ada jalan lain selain menerapkan royalti yang sesuai kepada para musisi pencipta lagu. Entah itu royalti ketika yang bersangkutan atau yang mempopulerkannya manggung, entah itu ketika lagu nya dipasarkan di karaoke-karaoke atau diunduh di internet, entah itu melalui streaming music services yang mulai marak akhir-akhir ini, atau bahkan melalui music digital. Semua harus ada royaltinya. Para musisi pun sebaiknya dalam setiap pembuatan kontrak harus menyertakan orang yang ahli di bidangnya (ahli hukum dalam pembuatan kontrak) agar ia tidak dirugikan oleh produser-produser yang nakal.

Wendi Putranto | Sumber: id.linkedin.com

Wendi Putranto, editor majalah Rolling Stone Indonesia, di sela-sela wawancaranya dengan kami mengatakan, “Menyiasatinya (kasus pembajakan ini) tentu bukan cuma dengan berkoar-koar sampai berbusa tentang ‘stop pembajakan musik!’ atau mengeluh kepada pemerintah atau aparat penegak hukum karena tidak melakukan tindakan tegas untuk memberantasnya. Tindakannya perlu lebih dari itu semua. Masyarakat secara luas perlu diedukasi tentang menghargai sebuah hasil karya cipta dan bagaimana mengapresiasinya dengan baik dan benar, perlu dijelaskan proses kreatif musisi dan bagaimana musik ini menjadi sebuah pilihan profesi dan komoditas sekarang ini. Dijelaskan (juga) bahwa apabila seseorang ingin terhibur dengan music, maka ada harga yang harus dibayarkan. Walau pada kenyataannya banyak juga musisi yang membagikan musiknya dengan gratis. Jika ada edukasi dan sosialisasi untuk menghargai karya cipta musik ini pastinya nanti akan tumbuh kesadaran publik yang lebih baik.”

Lebih lanjut, Bens Leo mengungkapkan 3 cara yang harus dimiliki para musisi maupun band-band agar bisa melawan derasnya kasus pembajakan hak cipta yang menggerus produk fisik. Yang pertama, musik yang ditampilkan haruslah memiliki karakter. Kedua, setiap musisi harus aktif di social media. Jaman sekarang tidak perlu lagi bantuan produser untuk memasarkan hasil karya kita. Dengan kita mengunggah dan mempublikasinya di jejaring social, itu sudah termasuk bentuk pemasaran yang baik. Sebab social media adalah pasar yang menjanjikan, tempat semua orang berkumpul secara tidak langsung. Yang ketiga adalah setiap musisi harus punya manajemen yang baik demi kelangsungan karirnya.

Orientasi berpikir orang yang kini inginnya apa-apa gratisan sepertinya sudah menjadi budaya di masyarakat. Terlalu banyak orang nyaman dengan ketidakbenaran. Hal ini terlihat dari budaya masyarakat yang kurang menghargai sebuah hasil karya cipta dengan membeli segala sesuatunya dengan produk yang asli. Pemerintah pun dirasa kurang memberikan proteksi kepada para musisi, produser, bahkan perusahaan-perusahaan penyedia layanan kaset maupun CD terhadap derasnya arus pembajakan. Faktanya, di mall-mall di Jakarta pun masih banyak pedagang DVD bajakan yang diberikan tempat dan dibiarkan untuk berjualan. Padahal nyata-nyata telah melanggar Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Kembali membahas music digital. Apabila pembaca yang mulai tergerak hatinya untuk menghargai sebuah karya masih belum mau membeli music dari aplikasi digital seperti I-tunes, musiklangit.com, hingga google play karena belum terbiasa menggunakan kartu kredit maupun pembayaran secara online, maka pembaca dapat mengunjungi beberapa situs music streaming online yang menyediakan jasa mendengarkan music secara gratis, tetapi tetap secara legal. Salah satunya adalah deezer.com, Rdio, dan Gueva. Disana kita bisa mendengarkan music-musik yang sudah bersertifikasi tanpa harus menunggu buffering dan kita bisa menikmati audio musik yang baik seperti di gedung-gedung bioskop. Namun, apabila kita ingin menghilangkan iklan dan menambah kualitas audio, kita diwajibkan untuk membayarnya dengan jumlah yang masih wajar.

Pemerintah pun harus mendukung hal ini. Selain menciptakan undang-undang, pemerintah bersama aparat kepolisian harus berani menindak tegas praktek-praktek pembajakan, baik pembajakan hak cipta moral maupun hak ekonomi, entah itu di dunia maya maupun dunia nyata.

“Saya percaya Industri musik Indonesia tidak akan mati. Mungkin hanya semakin mengecil dan menurun saja penjualannya, karena pasar yang membeli musik masih tetap ada. Misalnya dari para kolektor musik atau generasi muda yang lebih menghargai musik (yang) juga akan terus terlahir nantinya. Kepada mereka semua lah industri ini nanti bergantung.” Ujar Wendi.

Kita harus meninggalkan budaya lama. Ada baiknya bukan mendukung musisi dan industri dengan cara membeli, entah membeli CD, DVD, kaset, merchandise, atau tiket konser? Sebab, Setiap karya yang dihasilkan oleh para seniman bangsa selayaknya diberi apresiasi yang sesuai. Bukan hanya tepuk tangan dan kata-kata manis yang keluar dari bibir, melainkan dari uluran tangan dan itikad baik masyarakat untuk mau menghargai suatu karya.

Salam Stop Pembajakan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s