Ruang Wawan: Momentum Menolak Lupa

***Tulisan ini sudah saya publikasikan sebelumnya melalui web viaductpress.com pada bulan Juni 2015 kemarin.***

Sumarsih didampingi suami (kanan) dan Lamhot (kiri)
Sumarsih didampingi suami (kanan) dan Lamhot (kiri)

Terwujud sudah Kampus UNIKA Atma Jaya (UAJ) mempunyai sebuah pengingat akan sejarah yang mungkin sempat terlupakan. Ya, Ruang Wawan itu kembali terwujud setelah sempat hilang selama beberapa waktu. Ruang Wawan, sebuah simbol pengingat tanda bahwa perjuangan B.R. Norma Irawan, mahasiswa Atma Jaya korban Tragedi Semanggi I, kini diabadikan permanen di salah satu gedung perkuliahan UAJ.

Senin, 15 Juni 2015 silam. Saat senja hampir tiba, Ibu Sumarsih dan Bapak Arief (orang tua alm.Wawan) sudah menunggu di pelataran lorong BKS Atma Jaya, persis di depan ruang Senat Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya. Mereka disambut senyuman hangat dari mahasiswa-mahasiswa yang hadir disana. Di usia mereka yang menua, semangat mereka tetap membumbung tinggi kala menghadiri peresmian Ruang Wawan yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Hukum tersebut.

Bapak Arief, dengan raut wajah yang sesaat sempat terlihat sedih karena mengingat kematian Wawan berdiri dan maju ke depan para simpatisan yang telah hadir. Ia membuka secarik kertas yang berisikan refleksi yang sudah ia siapkan sedari rumah. Sepatah kata demi kata ia lontarkan. “Pertama-tama, saya dan istri mengucapkan terima kasih atas diselenggarakannya sebuah acara pada hari ini yaitu pemberian nama sebuah ruang. Dimana nama yang digunakan adalah nama anak kami Bernardinus Realino Norma Irawan” buka nya dengan nada yang sedikit bergetar.

Arief sedang membawakan sebuah refleksi
Arief sedang membawakan sebuah refleksi

Namun, wajah muram itu pelan-pelan sumringah kala ia menjelaskan refleksinya lebih lanjut. “Ketika itu, dinamika situasi negeri ini menuntut mahasiswa bersikap, yaitu pro-status quo (kemapanan) atau pro-perubahan! Wawan dan banyak mahasiswa lainnya pro terhadap perubahan!” ungkapnya yakin kala mengembalikan memori para simpatisan yang hadir pada saat itu ke tahun 1998. Meskipun begitu, sebagai orang tua tentu ia tetap merasa khawatir dan was-was akan keamanan anaknya semasa memperjuangkan perubahan. “Pada masa itu rektor Atma Jaya adalah salah seorang fungsionaris Partai Golkar. Partai Golkar saat itu dikenal sebagai ‘penyangga status quo’. Kami khawatir anak kami dicap sebagai pengkhianat republik. Kekhawatiran kami kedua, anak kami oleh Universitas, bakal dianggap menjatuhkan nama baik almamater” tambah Bapak Arief.

Sekadar kilas balik, dahulu di Atma Jaya sudah pernah ada nama “Ruang Wawan” yang disematkan ke sebuah ruangan di salah satu gedung Atma Jaya. Ketika itu, Rektor Unika Atma Jaya periode 1999-2003, Bapak Harimurti Kridalaksana yang kini menjadi rektor di Universitas Buddhi Dharma Tangerang sempat memberi nama sebuah ruang ujian dengan nama “Ruang B.R. Norma Irawan”. Namun setelah orang tua Wawan mengkonfirmasi keberadaan ruang tersebut pada tahun 2011, semua civitas tidak ada yang mengetahuinya sama sekali.

Kini, di 2015 nama itu kembali muncul menghiasi sebuah sudut di kampus almamater oranye ini. Ruang Dosen FE di lantai 5 Gedung Karol Wojtyla diubah namanya menjadi “Ruang Wawan”.

“Ya sebagai orang tua Wawan, saya mengucapkan terima kasih. Dimana meskipun ia sudah meninggal dunia namun masih memberikan inspirasi kepada junior-juniornya untuk melanjutkan perjuangannya. Terutama di dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM yang sampai saat ini masih kita tuntut untuk diselesaikan secara judisial sesuai UU no.26 Tahun 2000” kata Ibu Sumarsih ketika ditanyai tanggapannya tentang kemunculan kembali Ruang Wawan tersebut.

Lagi katanya dengan tegas, “Rupanya kepekaan yang Wawan alami semasa hidupnya ternyata menular kepada kalian semua (mahasiswa-mahasiswa). Dulu semasa di kampus ini sempat ada pengabadian nama Wawan di salah satu ruangan ujian di pascasarjana kalau tidak salah, tiba-tiba sudah tidak ada. Tetapi kemudian oleh junior-juniornya diperjuangkan lagi. Ini bagi saya merupakan keberhasilan luar biasa ketika menghadapi suatu hal yang tidak mudah untuk penamaan pemberian nama Wawan di lantai 5.”

Tentu perjuangan tidak hanya berhenti sampai pada sebuah penamaan ruangan. Bapak Arief masih menyimpan mimpi suatu saat nanti akan didirikan monumen di kawasan Atma Jaya sebagai “Taman Reformasi” sebagai kelanjutan melawan lupa yang selama ini terus dikumandangkan gabungan orang-orang yang melakukan aksi diam setiap hari Kamis di depan Istana Merdeka.

“Harapan saya setiap orang yang melihat foto Wawan akan menginspirasi terhadap kehidupan mereka supaya meneladan sikap Wawan yang peka terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Dan juga ketika kondisi di negara kita tidak semakin membaik sejak ‘98 yang nyatanya sampai saat ini juga masih tidak membaik. Saya kira mahasiswa tidak bisa tinggal diam! Banyak orang yag harus dibantu dan ditolong. Bahkan banyak kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat yang harus dikritisi oleh mahasiswa” tutup Ibu Maria Catarina Sumarsih, pejuang setia HAM itu.

Hidup Korban! Jangan Diam! Lawan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s