Evan-Dimas-Espanyol

Sebuah Catatan Untuk Evan Dimas

Di tengah carut marutnya roda kompetisi nasional dan perselisihan yang terjadi antara Kemenpora dan PSSI, Evan Dimas Darmono kembali hadir membawa euforia dan kebanggaan publik akan talenta muda Indonesia. Tak tanggung-tanggung, gelandang yang identik dengan nomor punggung 6 ini pergi ke Spanyol untuk membina ilmu sepakbola sekaligus mencoba peruntungannya bermain di kasta tertinggi sepakbola Spanyol, Liga BBVA.

Pemain asli Surabaya kelahiran 13 Maret 1995 ini bisa jadi salah satu pesepakbola Indonesia yang beruntung karena mendapat lirikan dari klub asal Liga BBVA Spanyol, RCD Espanyol. Evan akan mendapat pembinaan dari Espanyol selama lima bulan. Pembinaan ini bukan hanya sekedar pembinaan, melainkan menjadi kesempatan mantan kapten timnas U-19 ini untuk bisa merumput di Eropa. Evan akan diberikan porsi latihan khusus sebelum melakukan trial supaya fisik dan tekniknya setara dengan pemain muda yang dibutuhkan di Eropa.

“Jalan untuk menjadi pemain besar memang sulit. Tapi minimal Evan sudah membuka jalan untuk menuju ke sana,” – Danur Dara

Sebenarnya Spanyol bukan negara yang baru bagi Evan. Terhitung sudah empat kali ia pulang pergi ke Spanyol dalam rangka sepakbola. Kesempatan pertamanya ialah kala ia berlatih bersama Pep Guardiola dalam event Nike The Chance 2012. Kedua tahun 2014, yakni pada saat ia menjalani tur Tim Nasional U-19 di Spanyol yang sempat mempertemukannya dengan Luis Suarez di Barcelona. Ketiga kalinya ia kembali ke negeri matador, yakni pada tahun lalu saat melakukan trial di Klub Divisi 2 Liga Spanyol, UE Llagostera dan kali ini ia kembali lagi untuk belajar di klub RCD Espanyol yang bermarkas di Barcelona.

Evan memang bukan pemain biasa. Sejak kebintangannya mengudara pada Kejuaraan Piala AFF U-19 tahun 2013 yang lalu, gelandang berusia 20 tahun ini selalu dijadikan tumpuan di tim yang ia bela baik tim nasional usia remaja, senior, dan Surabaya United (yang dulu dikenal dengan Persebaya 1927).

Belajar dari Arthur Irawan

arthur

Arthur Irawan saat membela Espanyol B

Evan Dimas bukan pemain Indonesia pertama yang menimba ilmu di RCD Espanyol. Jauh sebelum Evan Dimas menimba ilmu disana, Arthur Irawan, pemuda yang juga asal Surabaya sudah terlebih dahulu bermain untuk RCD Espanyol. 3 tahun lamanya Arthur bermain untuk tim muda RCD Espanyol namun tak kunjung mendapatkan tempat di tim utama sebelum akhirnya hijrah ke Malaga B hingga sekarang berada di klub Belgia, Waasland-Beveren.

Pada 9 November 2011, Arthur resmi menandatangani kontrak dengan RCD Espanyol. Dia masuk ke dalam tim muda RCD Espanyol B untuk dibina dan mengembangkan teknik berrmain. Namun hingga akhir kesempatannya bermain untuk RCD Espanyol B, pemain pengisi bek sayap ini jarang mendapatkan menit bermain. Meskipun klub mengakui kemampuannya, tapi tampaknya itu tak cukup untuk dirinya menjadi bagian penting dalam kesuksesan tim. Alhasil ia pindah tiga tahun kemudian ke Malaga B namun tetap berakhir sama.

Publik sempat mengelu-elukan Arthur karena prestasinya di kancah internasional. Siapa yang menyangka pemain asal Surabaya ini  bisa sampai ke Barcelona dan bermain bagi klub Eropa? Tak sedikit yang berharap Arthur dapat mengambil bagian dalam pagelaran Piala AFF 2012. Namun ternyata nama besar Espanyol yang melekat di nama Arthur tak membuat Nil Maizar, pelatih timnas saat itu serta merta memasukkannya di dalam skuad utama. Nil Maizar mencoret bek sayap Espanyol B dari keikutsertaan di Piala AFF. Ia kalah bersaing dari Raphael Maitimo, pemain naturalisasi asal Belanda.

Banyak yang terkejut dengan keputusan mantan pelatih Semen Padang tersebut karena Arthur kerap mengikuti simulasi sebagai anggota skuad inti. Namun Nil berpandangan lain. “Tak terlalu istimewa” ungkapnya.

Manajer timnas Habil Marati lagi menjelaskan alasan pencoretan pemain kelahiran tahun 1993 tersebut. “Jadi pencoretan ini bukan hanya soal kualitas, tetapi juga bagaimana kemampuan dia menyatu dengan rekan-rekannya dalam tim,” kata Habil Marati.

“Saya belum memikirkan itu, masih jalan saja. Kalau urusan gagal atau tidaknya itu menjadi urusan Tuhan” – Evan Dimas

Ya, selain masalah teknik kemampuan diatas lapangan, rupanya hubungan Arthur dengan para pemain timnas kurang solid dengan statusnya sebagai star-man kala itu. Tak jarang gosip beredar di kalangan jurnalis sepakbola bahwa Arthur sempat dijauhi teman-temannya karena statusnya itu. Bahkan kini di Waasland-Beveren, pemain yang berusia 23 tahun ini masih sulit menembus tim utama. Sebuah hal yang pasti menghambat perkembangan karir pemain seusianya.

Evan Dimas tentu perlu belajar dari apa yang sudah dialami seniornya itu. Jangan sampai euforia masyarakat justru membutakan mata dan semangat Evan Dimas. Fakta bahwa pemain Indonesia masih sulit menembus klub-klub Eropa memang masih membayang-bayangi Evan dan sejumlah pemain yang akan mengikuti jejak Evan. Namun bukan berarti menciutkan langkah para talenta muda Indonesia untuk mencoba dan terus berusaha menjadi pemain terbaik.

evan dimas

Evan kala membela Timnas U19 melawan Barcelona B yang diperkuat Luis Suarez

Evan dan pemain bola seusianya harus mampu mengatasi stars syndrome dan mental tempe, mental yang selalu menganggap dirinya lebih rendah/tidak mampu dibandingkan orang lain serta mudah menyerah. Sebab kedua mental itu yang sering membuat jatuh sang pemain itu sendiri.

Mungkin kekuatan mental, semangat, dan kerja keras Cristiano Ronaldo yang tak pernah puas perlu dijadikan contoh sahih bagaimana ia memposisikan dirinya menjadi pemain legenda sampai saat ini. Sebab Cristiano menjadi bukti nyata bahwa kegagalan bukan alasan untuk menyerah, namun untuk bangkit dari keterpurukan.

Dan lagi yang paling penting dari semua itu adalah kerendahan hati dan siap menerima resiko apapun, termasuk gagal di Espanyol B. “Saya belum memikirkan itu, masih jalan saja. Kalau urusan gagal atau tidaknya itu menjadi urusan Tuhan” ungkap Evan sesaat sebelum kepergiannya pada 2 Februari 2016 yang lalu.

Pada tahun 2012, di saat Danur Dara, pelatih PON Jatim masih membimbing Evan yang kala itu harus pulang karena gagal bertahan lebih lama di event Nike The Chance pernah berujar “Jalan untuk menjadi pemain besar memang sulit. Tapi minimal Evan sudah membuka jalan untuk menuju ke sana,” tambahnya.

Keberhasilan menjadi pemain Indonesia di Eropa memang sebuah kebanggaan. Namun, kalaupun gagal bersinar bukan menjadi patokan kegagalan itu sendiri. Sebab Evan telah menjalankan tugas mulia mengibarkan panji merah putih di Eropa dan membuka jalur untuk pemain-pemain muda Indonesia menyusul langkah Evan.

Semoga sukses Evan!

Tulisan ini sebelumnya sudah diterbitkan dalam website Viaduct http://viaductpress.com/sebuah-catatan-untuk-evan-dimas/ tertanggal 3 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s