220917_788456_rumah_makan

Surat Nyeleneh Untuk Walikota Serang

Lagi-lagi dagelan terjadi di republik ini. Kali ini membawa topik toleransi beragama dengan lakon preman berseragam. Entah apa yang ada di pikiran mereka, yang pasti toleransi masih menjadi hal yang langka di negara yang “katanya” lebih memilih mempunyai pemimpin korup dibanding kafir. Ah, apa itu hanya soal politik Jakarta ya makanya ada yang ngomong kayak gitu? Kayaknya gak pantas juga toh.

Di bulan puasa tahun ini, persoalan toleransi kembali menemukan momentum untuk dibicarakan. Seolah seperti topik tahunan yang tak pernah habis, masalah toleransi mengundang komentar dan sikap dari banyak kalangan. Ini bukan soal Kristen vs Islam. Bukan pula soal Ahmadiyah vs Muhammadiyah. Basi ah! Ini soal tipisnya toleransi pemerintah — berkedok cara yang legal — menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang kepada rakyat kecil.

Belum genap seminggu ibadah puasa berjalan, Eni, seorang ibu penjual makanan di Kota Serang sudah dibuat menangis hingga jatuh sakit karena dagangannya disita petugas SatPol PP. Rekaman kru KompasTV pada saat itu sontak menjadi viral dan mengundang kecaman dari para netizen yang katanya terkenal doyan kritik tapi suka emoh ngasih solusi.

“Ya jadi rame nih. Padahal penegakannya sudah berdasarkan Perda No 2 tahun 2010 tentang Pekat dan razia itu amanat Perda,” ujar Maman Lufti, Kepala SatPol PP Kota Serang seperti dilansir Merdeka.com, Sabtu (11/6). Ladalaaah Pak-pak…. Kalo karena aturan aja, skalian aja sampean itu hancuri restoran-restoran yang buka. Lah ini Eni yang udah pake kain supaya ga keliatan dari luar aja kowe sikat, restoran di jalan-jalan itu bisa kowe hancurkan toh? Wong mereka buka biarpun pake tirai. Ya bedanya memang kalau warung Bu Eni kalah adem dan kalah bayar ‘sampingannya’.

Eh jadi suudzon saya…

Ini bukan soal saya dendam sama restoran yang buka, engga sama sekali. Tapi kan bapak bapak sekalian strict nih harus taat aturan kan. Jadi kenapa gak sekalian hancurin KFC, MCD yang katanya produk kapitalis itu? Ohhh saya paham… atau mungkin ga dapet arahan dari Bapak Walikota ya?

Lah kok saya jadi protes ke bapak Satpol… Paling ujung-ujungnya mereka lempar tanggung jawab ke atasan mereka, walikota Serang.

Bapak Walikota Serang yang saya hormati, sudahkah bapak mengetuk pintu hati bapak dulu? Bapak sah-sah saja menyalahkan Satpol PP soal tata cara mereka yang cenderung arogan dengan menyita makanan. Loh tapi kan itu gak akan terjadi kalau Bapak gak nerbitin surat bakekok itu, toh…

Jadi gini pak. Mungkin bapak menafsirkan arti toleransi itu berbeda sudut pandang dengan kami-kami ini yang cuma nulis doang kerjanya, tapi gak merasakan apa yang bapak rasakan, berpeluh keringat mengurusi Kota Serang yang juga jarang saya injak. Mungkin menurut bapak nutup pakai tirai itu masih kurang toleran sama Bapak dan teman-teman Bapak yang puasa. Lah tapi darimana dia makan pak? Kasian dia gabisa korupsi kayak om-om di Senayan itu… Jadi ya nyari duitnya cuma dari jual makanan yang gak seberapa lah dibanding makanan Bapak tiap hari.

razia-yang-dilakukan-oleh-satpol-pp-di-banten_20160612_161130
Ekspresi Bu Saeni yang tertangkap kamera KompasTV saat makanannya disita Satpol PP

Makanan yang dijual haram ya rupanya pak sampe mereka bisa sikat gitu? Kayaknya halal-halal aja.. Gak mengandung babi kok makanannya. Dijualnya juga bukan nyuruh orang makan maksa-maksa gitu, bukan! Tapi dengan sopan, tidak mengumbar pemandangan makanan yang lezat itu di siang hari dengan menutupi warung dengan tirai supaya enggak keliatan dari luar. Jadi ya kalo emang konsumennya udah niat mau makan, ya makan. Mau puasa yaudah tinggal puasa.. Gampang kok.. Sama gampangnya kayak bapak bikin aturan itu..

Bapak Wali yang saya kagumi karena nge-trend mendadak di media sosial, saya mengerti kebijakan ini keluar untuk menghormati yang puasa. Masalahnya, bapak sebagai pemimpin apakah memang punya masyarakat yang pada puasa semua? Kalo ada yang sakit ato gabisa puasa gimana pak?

Nih pak ya.. saya sampai kulik data BPS Kota Serang tahun 2009 loh pak… Mari kita berandai-andai bahwa yang muslim di daerah bapak itu pada puasa semua. Jadi total masyarakat bapak ini tahun 2009 ada 489,663 jiwa. Yang muslim ada 480,688 jiwa alias 98,17%. Sedangkan yang non muslim ada 8,975 jiwa alias 1,83%. Kecil sih memang angka yang gak puasa. Tapi kalo yang 1,83% itu jomblo semua dan gabisa masak di rumah, mereka mau makan apa pak kalo semua warung bapak bumi hanguskan makanannya? Kasian itu asam lambungnya naik. Belum lagi kalau yang harusnya puasa terpaksa gabisa puasa karena telat sahur atau lagi sakit. Lah mereka gabisa masak juga. Jadi gimana makannya kalo warung ditutup? Restoran mahal pak…

“Kamu nih lemah, gitu aja ngeluh.” Mungkin itu kali ya dalam hati bapak pas baca tulisan saya ini. Tapi pak, tapiii… Bukannya masih ada orang yang gak berpuasa? Bukannya makan adalah hak dasar setiap manusia yang tidak berpuasa? Dan lagi nih pak.. Setau saya, toleransi itu ada ketika masyarakat mayoritas dan minoritas saling menghargai dengan batas-batas yang wajar.

Nah balik ke masalah Bu Eni yang anak buah bapak sita makanannya. Emang gak wajar ya pak kalau dia tetep nyari nafkah buat bekal lebaran nanti? Atau ga muluk-muluk deh, nyari nafkah buat menyambung hidup dengan tetap menghormati batas-batas kewajaran orang yang puasa itu juga salah pak? Toh 8000-an jomblo itu rela kok membayar buat makan mereka.

Buat saya yang sok tau soal agama ini sih masih wajar-wajar aja kalau Bu Eni buka warung. Ya kalo warungnya rugi, ya salah Bu Eni sendiri kenapa jualan pas puasa kan? Tidak harus jadi soal juga buat Bapak. Udah capeklah pak pikirin infrastruktur kota Serang, jangan ditambah lagi ama yang beginian.. Toh udah ada ormas-ormas garis keras yang siap berkoar sama yang jualan. Jadi Bapak tenang aja deh, gaperlu kirim pasukan sampe sebegitunya…

Udah capeklah pak pikirin infrastruktur kota Serang, jangan ditambah lagi ama yang beginian.. Toh udah ada ormas-ormas garis keras yang siap berkoar sama yang jualan. Jadi Bapak tenang aja deh, gaperlu kirim pasukan sampe sebegitunya…

Ya nasi sih udah jadi bubur pak.. Si Bu Eni udah terlanjur merasa tertindas. Netizen yang pedas-pedas terlanjur bersumpah serapah. Para donatur terlanjur menyumbangkan uangnya ke kantong Bu Eni. Lah Bu Eni sekarang jadi jutawan karena mendapat donasi dan perhatian yang besar dari masyarakat kita. Mengutip dari status facebook senior saya Marlon Hutajulu, “Kalau orang mau donasi untuk apapun ya sah-sah saja, itu panggilan hati kok. Mau apapun alasannya apakah kasihan, toleransi, dsb. Perlu kejelasan saja tentang penyalurannya agar tidak menyimpang. Kalau saya fokus ke perda yang tidak berlandaskan kebhinekaan ini. Sekian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s