Mengakhiri Sebuah Era

 

Memasuki tahun 2017 berarti masa-masa mahasiswa angkatan 2013 di bangku kuliah cepat atau lambat akan segera berakhir. Suka duka menyertai kami para mahasiswa dalam perjalanan 4 tahun penuh tawa dan air mata, baik dalam bidang akademis maupun kegiatan organisasi kampus. Tidak ada seorangpun di muka bumi ini yang mau mengakhiri periode hidupnya dengan hal-hal yang tidak dapat dibanggakan. Sekalipun kemampuannya terbatas, keinginan untuk melakukan suatu karya besar tetap ada tersimpan di lubuk hatinya yang terdalam.

KBBI: pamungkas/pa·mung·kas/ (n)  yang terakhir;

Akhir sebuah era kadang menjadi ironi tersendiri bagi mereka yang menjalankannya. Ironi apakah era yang akan berlalu ini menjadi era yang meninggalkan kenangan manis atau malah tidak menjadi kenangan sama sekali untuk era-era selanjutnya. Hal itu menjadi kegalauan sendiri yang terus menghantui diri kita sampai saat itu tiba.

Adalah hal yang manusiawi bahwa setiap manusia, siapapun itu, di muka bumi ini selalu ingin menggoreskan tinta sejarahnya sendiri-sendiri sebelum memasuki akhir dari sebuah era. Bahwa menjadi hal yang wajar tiap-tiap orang berusaha menjadikan dirinya sebagai contoh baik bagi generasi penerusnya. Tak terkecuali kita, mahasiswa. Sebagai mahasiswa yang esensinya adalah berpikir kritis, tentu kita tidak ingin generasi di bawah kita tenggelam dalam bualan-bualan manis dari “pimpinan kampus”. Sekadar mengikuti doktrin dan main-main aman saja? Janganlah menjadi mahasiswa. Cukuplah menjadi kaum pekerja yang tunduk pada penguasa.

Akhir sebuah era biasanya ditandai dengan adanya pesan dan kenangan yang ditinggalkan. Menilik dari kisah Pandawa, pasca wafatnya Kresna, Byasa menyarankan para Pandawa agar meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai pertapa. Sebelum meninggalkan kerajaan, Yudhistira menyerahkan tahta kepada Parikesit, cucu Arjuna.

Indonesia-2-640x426.jpg
Bambang Pamungkas dengan jersey “Pamungkas”nya pada AFF Cup 2012

Ada lagi di era milenial ini seorang yang bernama Bambang Pamungkas. Semasa bermain sebagai seorang legenda di tim nasional, ia sangat identik dengan nama “Bambang” diatas nomor punggung yang selalu ia kenakan. Namun ada hal yang berbeda yang ia lakukan pada pagelaran ajang bergengsi sepakbola di kawasan Asia Tenggara tahun 2012. Jika teman-teman ingat pada saat laga terakhirnya di Piala AFF 2012, Bambang tidak menggunakan nama “Bambang” di punggungnya, melainkan nama “Pamungkas”. Rupanya benar, itu dimaksudkan olehnya sebagai laga pamungkasnya bersama tim nasional.

“Segala rekor saya tak ada artinya jika saya tak meraih trofi,” – Bambang Pamungkas

“Segala rekor saya tak ada artinya jika saya tak meraih trofi,” kata Bambang, sang legenda itu. Bagi pesepakbola manapun di dunia ini, trofi klub adalah harga mati di atas penghargaan individu. Apalagi menjelang musim angkat sepatu. Menjadi sebuah penyesalan terbesar mungkin bagi setiap pesepakbola, tak terkecuali Bambang apabila gagal menghadirkan trofi mayor ke negara yang ia bela. “Sebuah trofi penting bagi Indonesia dan akan menjadi akhir yang manis sebelum saya pensiun”. Ya, satu penyesalan yang terus menghantui mantan kapten tim nasional tersebut sampai saat ini, yakni ketidakberhasilan dirinya menhantarkan Garuda menjuarai even-even resmi internasional. Akankah rasa itu akan membekas pada diri kita seusai kita menghantarkan era kita sampai pada titik akhir perjalanan?

Teman, mengakhiri sebuah era berarti mengakhiri sebuah cerita pahit-manis yang berlangsung. Mengakhiri sebuah era berarti erat kaitannya dengan bagaimana memodalkan era yang baru. Bagaimanakah keinginan kita saat mencapai akhir sebuah era? Apakah kita mau meninggalkan sebuah kenangan dan teladan bagi penerus kita atau bahkan sekadar lulus tanpa ada artinya? Mari kita bersama-sama meninggalkan kenangan manis, kenangan indah, kenangan yang tak terlupakan untuk kemudian menjadi senyum manis tak terlupakan.

Ah kamu, skripsi aja masih bab I udah ngawang mau lulus.

He..He…

Salam mahasiswa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s